Baranewsriau.com, BAGANSIAPIAPI – Rencana penyelenggaraan hiburan musik DJ dalam rangkaian kegiatan pasar malam di kawasan Arena MTQ Batu Enam, Bagansiapiapi, yang beredar luas di media sosial, menuai sorotan dari sejumlah kalangan masyarakat. Informasi yang beredar menyebutkan kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 8 Juli 2026.
Rencana hiburan tersebut memicu beragam tanggapan, khususnya dari masyarakat yang menilai Bagansiapiapi sebagai daerah yang selama ini dikenal memiliki nilai religius serta budaya Melayu yang masih kuat melekat dalam kehidupan sosial masyarakat.
Sebagai ibu kota Kabupaten Rokan Hilir yang dikenal dengan sebutan Negeri Seribu Kubah, Bagansiapiapi dinilai memiliki karakter budaya yang menjunjung tinggi adab, etika, serta kearifan lokal yang sarat dengan nilai moral dan norma kehidupan masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Munculnya rencana kegiatan hiburan DJ di ruang publik pun menjadi perhatian serius. Sejumlah pihak menilai konsep hiburan yang dinilai terlalu bebas dan terbuka dikhawatirkan dapat menimbulkan persepsi yang kurang baik, terutama terhadap pembentukan karakter generasi muda.
Aktivis Rohil Fani Pratama, turut menyoroti rencana kegiatan tersebut. Menurutnya, penyelenggaraan hiburan di ruang publik semestinya mempertimbangkan nilai budaya dan karakter daerah agar tidak menimbulkan polemik di tengah masyarakat.
“Kita bukan anti hiburan atau perkembangan zaman. Namun daerah ini memiliki identitas dan nilai-nilai yang harus dijaga. Jangan sampai kegiatan yang sifatnya hiburan justru memunculkan kesan yang kurang baik dan menjadi contoh yang tidak tepat bagi generasi muda,” ujar Fani, Senin (6/7/2026).
Ia menilai penyelenggara kegiatan perlu lebih bijak dalam menyusun konsep acara, terutama yang digelar di ruang terbuka dan dikonsumsi oleh berbagai kalangan usia.
“Rohil, khususnya Bagansiapiapi, punya identitas kuat sebagai daerah yang menjunjung adab dan budaya Melayu. Hal-hal yang berpotensi mengikis nilai tersebut perlu dipertimbangkan secara matang,” tambahnya.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak penyelenggara terkait tujuan, konsep kegiatan, maupun tanggapan atas munculnya sorotan masyarakat tersebut.
Perbedaan pandangan terkait bentuk hiburan publik dinilai menjadi hal yang wajar. Namun sejumlah pihak berharap setiap kegiatan yang dilaksanakan tetap memperhatikan norma sosial, nilai budaya, serta kearifan lokal yang selama ini menjadi ciri khas masyarakat Rokan Hilir.
Laporan: Alek Marzen





















































