Universitas Brawijaya Disorot Proses CAT Tertutup, Calon Titipan Menang

Redaksi

- Redaktur

Rabu, 9 Juli 2025 - 16:40 WIB

50445 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BOJONEGORO- Dugaan skandal dalam proses rekrutmen perangkat desa (Perades) Kadungrejo, Kecamatan Baureno, kini menyeret nama Universitas Brawijaya (UB) ke dalam pusaran kritik tajam. Lembaga pendidikan tinggi yang seharusnya menjunjung nilai akademik dan integritas, justru dinilai ikut melanggengkan praktik kotor dalam proses demokrasi desa.

Pada tes yang dilaksanakan Rabu (9/7/2025), publik dikejutkan dengan hasil akhir yang memperkuat dugaan bahwa proses seleksi sudah disetting. Calon yang sejak awal diduga sebagai “pesanan”, Ali Muhtarom, keluar sebagai pemenang telak dengan skor 71 poin, meninggalkan dua pesaingnya yang hanya meraih 49 dan 47 poin.

Puncak kejanggalan terungkap saat Lukman, salah satu tim pendamping dari Universitas Brawijaya, menjelaskan bahwa seluruh sistem Computer Assisted Test (CAT) dikendalikan oleh CV rekanan UB, dan semua data mulai dari soal, jawaban, hingga hasil akhir tidak bisa diakses oleh panitia lokal, kecamatan, maupun Dinas PMD.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Sistem kerja aplikasi dalam pengoreksian langsung tersambung dengan server. Server dikendalikan CV atas nama Pak Fadli, bagian tim dari FISIP Universitas Brawijaya,” ungkap Lukman.

Pernyataan ini menjadi alarm serius bagi kredibilitas Universitas Brawijaya. Alih-alih menjadi mitra profesional yang menjunjung transparansi, UB justru dituding menjadi aktor teknis yang membungkus proses rekrutmen penuh celah dan rawan manipulasi.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar, apakah kampus negeri kini berubah menjadi alat kekuasaan lokal? Banyak pihak menilai keterlibatan perguruan tinggi dalam pengisian jabatan desa tidak lagi murni akademik, tapi telah bergeser menjadi proyek bisnis beraroma politis.

“Mereka (kampus) mendapat anggaran besar dari kerjasama ini, tapi justru menutup akses publik dan melemahkan pengawasan. Ini bukan kontribusi akademik, ini penyimpangan moral pendidikan,” kecam seorang aktivis pendidikan lokal.

Sorotan tajam kini diarahkan ke Rektor dan Dekan FISIP Universitas Brawijaya. Mengapa sistem ujian dikuasai oleh pihak eksternal yang tidak bisa diaudit publik? Di mana komitmen transparansi, integritas, dan akuntabilitas yang selama ini dikampanyekan dunia akademik?

Jika UB tidak segera memberikan klarifikasi terbuka dan meninjau ulang model kerjasamanya, maka publik berhak menyebut bahwa kampus justru menjadi bagian dari sistem manipulasi kekuasaan di desa-desa. (Lk)

 

 

 

Editor: Redaksi

 

Berita Terkait

Kamis, 23 April 2026 - 12:26 WIB

Danramil 04/Kubu Hadiri Penanaman Pohon, Sambut Hari Bumi Sedunia.

Rabu, 22 April 2026 - 20:32 WIB

Polsek Kubu Gelar Sosialosasi Green Policing Dan Tanam Pohon Sambut Hari Bumi Sedunia.

Rabu, 22 April 2026 - 13:12 WIB

Cegah Karlahut Saat Kemarau, Babinsa Koramil 04/Kubu Giat Patroli Temapt Rawan Kebakaran.

Rabu, 22 April 2026 - 10:36 WIB

Pastikan Kualitas Infrastruktur, Kadis PUPR Rohil Kawal Langsung Pemeliharaan Jalan Tugu Tani–Simpang Tangki

Rabu, 22 April 2026 - 09:45 WIB

Polsek Kubu Amankan Penjual Sabu-Sabu.

Rabu, 22 April 2026 - 09:34 WIB

Kapolres Rohil Gelar Aksi Green Policing, Tanam 12 Pohon Sambut Hari Pohon Sedunia.

Selasa, 21 April 2026 - 23:40 WIB

Reformasi Birokrasi Rohil Bergerak: Sekda Fauzi Efrizal Lantik 43 Pejabat, Minta Tancap Gas Layani Masyarakat

Selasa, 21 April 2026 - 21:03 WIB

Lewat Konferensi Pers, PT SPRH Rohil Paparkan Kendala Administrasi dan Komitmen Bayar Gaji Karyawan

Berita Terbaru