Diduga Mafia Lahan Masih Bebas “Bertengkar” di Rohil

ALEK MARZEN

- Redaktur

Senin, 26 Januari 2026 - 12:56 WIB

50141 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BARANEWSRIAU.com, ROHIL | Kabupaten Rokan Hilir sejatinya menyimpan potensi hutan yang besar. Di wilayah Kepenghuluan Sungai Daun dan Pasir Limau Kapas, Kecamatan Pasir Limau Kapas, bentang alam hijau selama ini menjadi tumpuan harapan, penyangga lingkungan sekaligus modal pembangunan ekonomi daerah.

Namun harapan itu perlahan terkikis. Di balik lebatnya hutan, muncul kenyataan pahit yang menyisakan luka panjang. Penguasaan lahan diduga dilakukan secara masif dan serampangan oleh kelompok tertentu yang kerap disebut sebagai mafia tanah.

Dengan puluhan alat berat, kawasan hutan dibabat, diratakan, lalu disulap menjadi hamparan perkebunan, ironisnya, mayoritas dikuasai oleh pendatang, bukan masyarakat tempatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Fenomena ini bukan peristiwa sesaat. Ia tumbuh perlahan, berlangsung lama, dan seolah dibiarkan. Masyarakat pribumi berada di posisi paling lemah. Mereka menyaksikan tanah leluhur beralih tangan, sementara suara protes sering kali terhenti sebelum sampai ke meja pengambil kebijakan.

Tak sedikit konflik bermunculan. Akar masalahnya nyaris seragam: tumpang tindih kepemilikan lahan, surat ganda, dan tapal batas wilayah yang tak pernah benar-benar diselesaikan.

Di atas kertas, satu bidang tanah bisa memiliki dua hingga tiga klaim, lengkap dengan surat atau dokumen resmi seperti SKRT (surat keterangan riwayat tanah) dan SKGR (surat keterangan ganti rugi) yang ironisnya justru diterbitkan oleh aparatur desa itu sendiri.

Baca Juga :  Diduga Bakar Lahan ,Opung Boy Diamankan Polsek Kubu.

Persoalan ini bukan lagi rahasia publik. Namun, setiap kali mencuat, penanganannya kerap menguap. Penegakan hukum berjalan tertatih, bahkan terkesan enggan menyentuh aktor-aktor besar di balik layar.

Di negeri seribu kubah, keadilan seolah tersesat di antara kepentingan dan kekuasaan. Para penguasa lahan ini diduga tidak bekerja sendiri. Jaringan mereka disebut tersusun rapi, bergerak sistematis, dimulai dari level paling bawah hingga menyentuh struktur kekuasaan yang lebih tinggi.

Sebuah pola yang membuat masyarakat kecil kian terpinggirkan dan kehilangan ruang untuk melawan.

Contoh terbaru terjadi di Sungai Daun dan Pasir Limau Kapas. Konflik kepemilikan tanah kembali mencuat ke permukaan.

Dua pihak saling klaim atas lahan yang sama, masing-masing memegang dokumen resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah desa. Kepastian hukum tak kunjung hadir, sementara sengketa terus berlarut.

Lebih memilukan lagi, penguasaan lahan itu bukan dalam skala kecil. Puluhan hingga ratusan hektare disebut berada di tangan perorangan. Di saat warga sekitar berjuang mempertahankan sebidang kecil tanah, alat berat justru bekerja tanpa henti, merobek hutan, meratakan alam, dan mengubah lanskap demi akumulasi keuntungan.

Baca Juga :  Dampak Banjir Teluk Nilap, Kapolsek Kubu Inisiatori Pendirian Posko Penanggulangan.

Sejumlah warga tempatan mengaku resah. Mereka menyaksikan ekskavator beroperasi bebas, siang dan malam, tanpa kejelasan izin. Hutan yang selama ini menjadi penyangga kehidupan diluluhlantakkan.

“Kami hanya bisa melihat,” ujar seorang warga lirih, yang tidak ingin namanya dipublikasikan. Senin (26/01).

Sebagian besar aktivitas itu, kata warga, melibatkan pihak-pihak dari luar Rokan Hilir. Tanah dibuka, dikuasai, lalu ditinggalkan dengan jejak konflik yang harus ditanggung masyarakat setempat.

Pertanyaannya kini mengemuka, sampai kapan persoalan mafia lahan ini dibiarkan?

Ketika hutan habis, konflik membesar, dan rakyat kecil terus dirugikan, kehadiran negara seharusnya tidak lagi samar.

Pemerintah daerah dan aparat penegak hukum dituntut hadir, bukan sekadar menjadi penonton di tengah pertarungan kepentingan yang kian brutal.

Jika tidak, Sungai Daun dan Pasir Limau Kapas hanya akan menjadi satu dari sekian banyak cerita tentang tanah yang hilang dan keadilan yang tak pernah benar benar datang.

 

Laporan: Alek Marzen

Berita Terkait

Bupati Agam Sampaikan Terima Kasih kepada Kapolda Riau atas Bantuan Penanganan Bencana
Doa Bersama Tandai Dimulainya Pembangunan Jembatan Merah Putih Presisi Tahap II di Teluk Meranti
Tingkatkan Hubungan Silaturahmi, Babinsa Koramil 04/Kubu Giat Komsos.
Polres Rohil Gelar Night Run 2026 Redam Ketegangan Pasca Aksi Unras Dengan Pendekatan Humanis.
Perkuat Keamanan Malam Hari, Polri Dan TNI Bersama Unsur Masyarakat Lakukan Patroli Cegah Pekat Hingga Narkoba.
Warga Sorot Dugaan Nepotisme PROYEK Catering PT BEP: Kades dan Ketua BPD Tanjung Peranap Disebut Libatkan Keluarga Atas Nama BUMDes
Semangat Personil Polda Riau dan Polres Kampar, Selesaikan 3 Jembatan di Kuok, Progres Tertinggi Capai 70%
Tim Gabungan TNI-Polri Berhasil Tangkap Terduga Pengedar Sabu Di Panipahan.

Berita Terkait

Sabtu, 28 Maret 2026 - 03:52 WIB

Polres Kampar Apresiasi: Satresnarkoba Kampar Sita 106 Gram Sabu Plus Senjata Api Rakitan

Selasa, 24 Maret 2026 - 22:30 WIB

Demi keamanan dan Keselamatan, Dirlantas Polda Riau Antisipasi Lonjakan Arus Balik H+4, Dengan Siaga Penuh 24 Jam

Selasa, 24 Maret 2026 - 22:16 WIB

Kapolda Riau: Ini Jadi Warisan Abadi Akan Dedikasi dan Pengorbanan, Kapolri Berikan Kebaikan Pangkat Luar Biasa Kepada Aiptu Apendra yang Gugur Saat Bertugas Kawal Malam Takbiran 

Kamis, 19 Maret 2026 - 00:34 WIB

Polsek Tapung Terima Laporan Masyarakat: Gercep Tangkap Dua Pelaku Curanmor 

Jumat, 13 Maret 2026 - 21:44 WIB

Memastikan Keamanan Mudik Lebaran:  Polres Kampar Pimpin Gelar Apel Siaga Operasi Lancang Kuning 2026

Jumat, 13 Maret 2026 - 05:40 WIB

Menyambut Tahun Ajaran Baru, Kapolres Kampar Bagikan Baju Sekolah kepada Siswa SD Muhammadiyah Desa Gobah, Wujud Peduli dan Solidaritas

Selasa, 3 Maret 2026 - 23:11 WIB

Polres Kampar Sukses Laksanakan Penelitian Puslitbang Polri, Pokus Pada Penanganan Unjuk Rasa 

Minggu, 1 Maret 2026 - 16:59 WIB

Bulan Ramadhan Ajak Generasi Muda Beraktivitas Positif, Polres Kampar Gelar Green Policing juara Running Race

Berita Terbaru