Asap pekat ganggu kesehatan dan sekolah, enam daerah masih terbakar.
PALEMBANG, baranewsriau.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan belum menunjukkan tanda berakhir. Hingga Minggu (4/10/2026), api masih terpantau di sejumlah titik dan kabut asap pekat kembali menyelimuti Kota Palembang.
Kondisi ini mendorong Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Keluarga Pers Indonesia (DPP AKPERSI) meminta pemerintah pusat turun tangan lebih kuat membantu penanganan di daerah.
Ketua Umum DPP AKPERSI Rino Triyono mengatakan, persoalan karhutla Sumsel kini berdampak luas, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga aktivitas masyarakat.
Data Kementerian Kehutanan per 3 Oktober 2026 mencatat penanganan masih berlangsung di enam daerah, yaitu Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, Muara Enim, Ogan Ilir, Banyuasin, dan Kota Palembang.
Kualitas udara di Palembang sempat mencatat konsentrasi PM2.5 sebesar 903,6 mikrogram per meter kubik pada 4 Oktober, yang dikategorikan berbahaya.
Dinas Kesehatan Sumsel juga mencatat 40.555 kasus ISPA selama September 2026. Kasus tertinggi di Palembang sebanyak 10.965 kasus.
“Jangan tunggu hujan lalu semua dianggap selesai. Yang harus diselesaikan adalah akar masalahnya,” ujar Rino dalam keterangan tertulisnya.
DPP AKPERSI meminta BNPB memperkuat operasi darat dan udara, Kementerian Kesehatan memperkuat layanan bagi warga terdampak, serta Kementerian Dalam Negeri mengevaluasi penanganan oleh pemerintah daerah secara objektif.
AKPERSI juga meminta Kementerian Kehutanan memeriksa perusahaan di kawasan rawan dan menindak tegas sesuai hukum apabila terbukti melakukan pembakaran.
Rino menegaskan kritik yang disampaikan lembaganya ditujukan pada sistem dan kebijakan penanganan, bukan pada petugas lapangan yang menurutnya telah bekerja keras.
Hingga berita ini diterbitkan, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan belum memberikan keterangan resmi. Redaksi membuka ruang hak jawab.
Penulis: DPP AKPERSI
Editor: Rosbinner Hutagaol
Reporter: Tim
Sumber: DPP AKPERSI









































