Refleksi Moral bagi Generasi Intelektual, Tragedi Cinta Ditolak di Kampus 

ROSBINNER HUTAGAOL

- Redaktur

Jumat, 27 Februari 2026 - 11:57 WIB

5060 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Utari Nelviandi, S.H., M.H., (Ketua Rumah Perempuan dan Anak/ RPA Provinsi Riau)

Pekanbaru,  baranewsriau.comPeristiwa pembacokan yang dilakukan oleh seorang mahasiswa terhadap mahasiswi di lingkungan kampus akibat cintanya ditolak adalah tragedi kemanusiaan yang sangat memprihatinkan dan melukai nurani kita bersama. Jum’at (27/02/2026).

Mahasiswa adalah simbol nalar, moralitas, dan perubahan sosial. Mahasiswa adalah agen intelektual yang dibentuk untuk berpikir kritis, menjunjung etika, serta menyelesaikan persoalan dengan akal dan dialog bukan dengan senjata dan kekerasan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Karena itu, tindakan pembacokan tersebut adalah penyimpangan pribadi, bukan representasi dunia kemahasiswaan.

Kami menegaskan dengan tegas: tidak ada luka yang lahir dari cinta. Tidak ada kekerasan yang bisa dibenarkan oleh penolakan.

Cinta sejatinya adalah perasaan yang memuliakan, bukan merendahkan.

Cinta yang sehat tumbuh dari rasa hormat, kesadaran, dan keikhlasan.

Ketika seseorang menyatakan perasaan, maka ia juga harus siap menerima segala kemungkinan jawaban, termasuk penolakan.

Baca Juga :  Penyidik Pidsus Kejati Riau Periksa Satu Orang Saksi, Perkara Dugaan Tindak Pidana Korupsi PT PHR Dikelola PT SPRH

Penolakan bukan penghinaan, bukan pula bentuk perendahan martabat.

Penolakan adalah hak setiap individu atas dirinya sendiri.

Tindakan kekerasan karena cinta ditolak menunjukkan adanya kegagalan dalam mengelola emosi, kegagalan dalam memahami makna cinta yang sesungguhnya, dan kegagalan dalam menghormati batas serta pilihan orang lain.

Tidak ada satu pun ajaran agama, nilai moral, maupun norma sosial yang membenarkan pelampiasan emosi dengan cara melukai orang lain.

Cinta yang dewasa tidak memaksa.

Cinta yang tulus tidak mengancam.

Cinta yang benar tidak melukai.

Kita harus menjadikan peristiwa ini sebagai momentum refleksi bersama. Kampus dan seluruh elemen masyarakat perlu memperkuat pendidikan karakter, literasi emosional, serta kesadaran tentang relasi yang sehat dan setara.

Mahasiswa sebagai kaum intelektual tidak hanya dituntut cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual.

Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa kekerasan berbasis relasi personal adalah bentuk nyata dari ketidakmampuan mengelola ego dan amarah.

Tidak ada alasan apa pun yang dapat menghalalkan tindakan melukai, apalagi hingga membahayakan nyawa.

Baca Juga :  Pertemuan Perdana MKKS, Kepsek Sekalian Sambut Ramadhan

Setiap individu memiliki hak atas rasa aman dan hak untuk menentukan pilihan tanpa intimidasi.

Kami mengajak seluruh mahasiswa dan generasi muda untuk membangun budaya cinta yang beradab, cinta yang menghormati, bukan menguasai; cinta yang menerima, bukan memaksa; cinta yang mendewasakan, bukan menghancurkan.

Mari kita tegaskan kembali:

Penolakan bukan alasan untuk kekerasan.

Kekecewaan bukan pembenaran untuk melukai.

Dan cinta sejati tidak pernah meninggalkan luka.

Semoga peristiwa ini menjadi pelajaran berharga agar tidak pernah terulang kembali, dan menjadi pengingat bahwa kematangan emosi adalah bagian dari kedewasaan iman, akal, dan kemanusiaan.

Karena pada akhirnya, cinta yang benar selalu memuliakan.

Dan iman yang matang selalu menahan tangan dari menyakiti dan menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kematangan hati dan akhlak adalah fondasi utama dalam setiap relasi antar manusia.

 

Sumber: Ketua Rumah Perempuan dan anak/RPA Provinsi Riau

(Ros.H)

Berita Terkait

Diganjar Denda Rp.5 Juta Saat Tak Hadir Sidang, Ketua LPM Rumbai Barat Melawan: “Cacat Hukum!”
Ditlantas Polda Riau Gaungkan Keselamatan Lalu Lintas di Aula SMAN 4 Pekanbaru dan Green Policing Sejak Dini
TERSANGKA PEMBUNUHAN DI TAMBANG KAMPAR BEBAS: Kuasa Hukum Surati Kapolda Riau, Soal P19 Jaksa Tak Dikerjakan Polisi
PJR Riau Grak Cepat Evakuasi Tiga Korban Amankan Jalan: Kecelakaan di Tol Permai KM 38 Satu Orang Meninggal 
Bukan Terpecah Melayu Makin Kuat, Halal Bihalal LMB Nusantara Bukti Bangkitnya Semangat Jaga Marwah
Bupati Agam Sampaikan Terima Kasih kepada Kapolda Riau atas Bantuan Penanganan Bencana
Semangat Personil Polda Riau dan Polres Kampar, Selesaikan 3 Jembatan di Kuok, Progres Tertinggi Capai 70%
Ketua Umum GRANAT Apresiasi Kinerja Polda Riau, Prestasi Spektakuler Selamatkan Generasi Bangsa

Berita Terkait

Selasa, 21 April 2026 - 23:40 WIB

Reformasi Birokrasi Rohil Bergerak: Sekda Fauzi Efrizal Lantik 43 Pejabat, Minta Tancap Gas Layani Masyarakat

Selasa, 21 April 2026 - 21:03 WIB

Lewat Konferensi Pers, PT SPRH Rohil Paparkan Kendala Administrasi dan Komitmen Bayar Gaji Karyawan

Selasa, 21 April 2026 - 10:08 WIB

Cegah Pekat Dan Perdaran Narkoba, Polsek Kubu Bersama Pihak Terkait Patroli Sinergitas.

Selasa, 21 April 2026 - 07:21 WIB

Kapolsek Kubu Laksanakan Cooling System Sekaligus Hadiri Reses anggota DPRD Rohil.

Senin, 20 April 2026 - 13:03 WIB

Tingkatkan Program Han Pangan, Babinsa Dampingi Petani.

Senin, 20 April 2026 - 08:06 WIB

Jaga Kebugaran Dan Perkuat Pendekatan Secara Humanis, Polres Rohil Gelar “Senam Pagi Sehat” Bersama Masyarakat.

Minggu, 19 April 2026 - 20:45 WIB

Kapolsek Panipahan Laksanakan Cooling Syistem Di Gereja HKBP Pasca aksi Demonstrasi, Situasi Kamtibmas Tetap Kondusif.

Minggu, 19 April 2026 - 19:26 WIB

Dinas PUPR Rohil Turun Langsung ke Bagan Punak Pesisir, Tinjau Banjir Air Pasang yang Rendam Jalan Warga

Berita Terbaru