BARANEWSRIAU.com, PANIPAHAN- Kepala SDN 001 Panipahan, Kecamatan Pasir Limau Kapas (Palika), Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Kamaruddin, memberikan klarifikasi terkait video viral yang menyeret namanya dalam dugaan penganiayaan terhadap seorang guru PPPK bernama Nursiah.
Klarifikasi tersebut disampaikan setelah berbagai pemberitaan dan potongan video beredar luas di media sosial maupun sejumlah media online yang dinilai tidak sepenuhnya menggambarkan kronologi kejadian sebenarnya.
Menurut Kamaruddin, peristiwa tersebut terjadi pada pagi Rabu, 20 Mei 2026, saat siswa kelas VI SDN 001 Panipahan sedang mengikuti asesmen akhir semester genap Tahun Ajaran 2025/2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

“Hari itu anak-anak kelas VI sedang mengikuti asesmen akhir semester. Seperti biasa saya masuk ke setiap ruangan untuk memeriksa kesiapan siswa mengikuti ujian,” ujar Kamaruddin, Kamis (21/5/2026) malam.
Ia menjelaskan, terdapat enam ruangan ujian yang diperiksanya satu per satu sebelum dirinya kembali ke kantor sekolah.
“Setelah selesai memeriksa ruangan, saya kembali ke kantor untuk sarapan dan minum obat karena kondisi kesehatan saya memang kurang stabil,” katanya.
Kamaruddin mengaku sebelum sarapan dirinya sempat melakukan pengobatan tradisional berupa pijat atau kusuk sehingga saat berada di kantor hanya mengenakan singlet.
“Itulah sebabnya saat itu saya hanya memakai singlet karena sebelumnya habis kusuk,” jelasnya.
Tidak lama kemudian, lanjut Kamaruddin, Nursiah datang untuk meminjam kunci toilet sekolah. Namun menurutnya, toilet yang dimaksud merupakan toilet khusus laki-laki yang saat itu sedang dipakai siswa.
“Saya jawab kunci toilet sedang dipinjam anak. WC yang diminta itu WC laki-laki, padahal di sekolah ada enam unit WC yang bisa digunakan,” ungkapnya.
Menurut Kamaruddin, dirinya kemudian mengarahkan agar menggunakan toilet lain yang tersedia di lingkungan sekolah.
“Karena masih ada WC lain yang kosong, maka saya arahkan untuk menggunakan WC yang lain,” katanya.
Namun, lanjutnya, Nursiah disebut tidak percaya dan tetap mendekatinya sambil merekam video menggunakan telepon genggam.
“Tentu saya merasa malu karena saat itu sedang makan dan tidak memakai baju lengkap. Saya merasa seperti diarahkan seolah-olah melakukan hal yang tidak baik,” ujarnya.
Karena panik, Kamaruddin mengaku spontan menghalangi perekaman menggunakan kursi yang berada di dekatnya. Ia mengatakan tindakan tersebut juga dibantu oleh petugas keamanan sekolah yang berada di lokasi.
“Kebetulan ada kursi di dekat saya, lalu saya gunakan untuk menghalangi perekaman bersama satpam,” katanya.
Namun demikian, Kamaruddin membantah keras tudingan telah melakukan penganiayaan secara sengaja terhadap Nursiah. Ia menegaskan tidak ada niat sedikit pun untuk menyakiti ataupun mencederai guru tersebut.
“Saya tidak ada niat memukul atau menyakiti. Itu terjadi spontan karena situasi saat itu,” tegasnya.
Ia juga menjelaskan hingga saat ini dirinya belum dipanggil pihak kepolisian karena sedang menjalani kontrol kesehatan. Menurutnya, pihak kepolisian baru meminta keterangan dari dua orang saksi, yakni satpam sekolah dan penjaga kantin.
Selain mengklarifikasi kronologi kejadian, Kamaruddin turut menyampaikan bahwa Nursiah sebelumnya pernah diistirahatkan dari aktivitas mengajar selama kurang lebih tiga bulan karena diduga mengalami gangguan kejiwaan.
“Saya pernah mengistirahatkan yang bersangkutan sekitar tiga bulan agar kondisi kesehatannya pulih dan supaya guru serta anak-anak bisa belajar dengan nyaman,” jelasnya.
Ia menambahkan, setelah kondisi Nursiah dinilai membaik, pihak sekolah kembali mempersilakan yang bersangkutan mengajar. Namun menurutnya, persoalan serupa kembali terjadi sehingga menimbulkan kekhawatiran di lingkungan sekolah.
“Kami berharap yang bersangkutan bisa diperiksa kembali kondisi kejiwaannya. Kami khawatir kalau tidak ditangani serius nantinya bisa berdampak kepada anak-anak,” ujarnya.
Kamaruddin menyebut sejumlah guru mengaku merasa takut terhadap sikap Nursiah. Ia juga mengatakan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius demi menjaga keamanan dan kenyamanan lingkungan sekolah.
“Sekarang guru-guru saja merasa takut, apalagi anak-anak. Ini perlu perhatian serius supaya tidak menjadi penyesalan di kemudian hari,” tutupnya.
Catatan Redaksi
Redaksi selalu menjunjung tinggi asas keberimbangan dan keterbukaan informasi dalam setiap pemberitaan. Apabila terdapat pihak-pihak terkait yang ingin memberikan klarifikasi, hak jawab, maupun tambahan keterangan atas informasi yang telah diterbitkan, redaksi terbuka untuk menerima dan memuatnya sesuai ketentuan jurnalistik yang berlaku demi menjaga keutuhan, objektivitas, dan akurasi informasi kepada publik.
Editor: Mz





















































