HNSI Rohil Minta Pemerintah Tak Gegabah Cabut Solar Subsidi Nelayan Bubu Tiang

Redaksi

- Redaktur

Minggu, 14 Desember 2025 - 21:19 WIB

50120 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BARANEWSRIAU.com, ROHIL – Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Rokan Hilir, Jaswadi, merespons pernyataan Ripi Candra dari pemberitaan media online belum lama ini meminta Dinas Perikanan Kabupaten Rokan Hilir meninjau ulang atau menghentikan sementara surat rekomendasi BBM jenis solar subsidi bagi nelayan bubu tiang.

Dalam pernyataan tertulisnya, Jaswadi menyampaikan bahwa setiap pandangan dan masukan dalam kebijakan sektor perikanan merupakan bagian dari dinamika organisasi yang patut dihormati.

Namun demikian, ia menilai persoalan solar subsidi perlu disikapi secara lebih arif, komprehensif, dan mempertimbangkan dampak sosial-ekonomi yang ditimbulkan di lapangan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami menghargai pandangan yang disampaikan. Namun, evaluasi kebijakan sebaiknya dilakukan secara menyeluruh dan proporsional, agar tidak berujung pada kebijakan yang justru memberatkan nelayan kecil, “ujar Jaswadi, Minggu (14/12/2025) malam.

Menurut Jaswadi, wacana penghentian atau peninjauan ulang rekomendasi solar subsidi bagi nelayan bubu tiang perlu dikaji secara cermat dengan mengacu pada fakta dan mekanisme yang berlaku.

Ia menegaskan bahwa selama ini penyaluran BBM subsidi kepada nelayan dilakukan melalui prosedur resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Baca Juga :  APBD Rohil Belum Jalan, UP Belum Cair, Kegiatan OPD Terhambat, Bupati dan Wakil Bupati Terpilih di Minta Ambil Sikap

“Jika muncul kekhawatiran terkait potensi kerugian negara, tentu harus dilandasi dasar hukum dan data yang jelas. Rekomendasi tersebut diterbitkan oleh pemerintah, sehingga nelayan seharusnya tidak diposisikan sebagai pihak yang dipersalahkan,” katanya.

Jaswadi juga memaparkan kondisi riil armada nelayan bubu tiang di Rokan Hilir yang dinilainya masih berada dalam kategori usaha perikanan rakyat. Di Pulau Halang, kapal nelayan bubu tiang rata-rata berkapasitas sekitar 15 hingga 17 ton, sementara di Sungai Bakau hanya sekitar 7 ton.

Dengan kapasitas tersebut, kata dia, ketergantungan nelayan terhadap BBM subsidi masih sangat tinggi untuk menopang keberlangsungan operasional melaut.

Ia menambahkan, aktivitas nelayan bubu tiang turut menopang mata rantai ekonomi daerah. Hasil tangkapan tidak hanya dipasarkan sebagai ikan konsumsi, tetapi juga diolah menjadi produk makanan khas dan oleh-oleh Bagansiapiapi. Sementara ikan berukuran kecil dimanfaatkan sebagai bahan baku pelet untuk kebutuhan budidaya perikanan.

“Bubu tiang adalah alat tangkap tradisional yang telah digunakan sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu. Dari sektor inilah Rokan Hilir pernah mencatatkan sejarah sebagai salah satu daerah penghasil ikan terbesar di Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga :  Awasi Masuknya WNA,Personil Koramil 04/Kubu Patroli Pelabuhan.

Jaswadi mengingatkan, penghentian rekomendasi solar subsidi berpotensi berdampak langsung terhadap sekitar 1.500 orang nelayan dan pekerja pendukung, baik di laut maupun di darat, yang tersebar di Pulau Halang dan Sungai Bakau.

Terkait persoalan perizinan yang menjadi sorotan, Jaswadi menegaskan bahwa hal tersebut berada dalam kewenangan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat melalui kementerian terkait. Menurutnya, persoalan administratif seharusnya diselesaikan melalui pembinaan, pendampingan, dan koordinasi lintas instansi.

“Penyelesaian administrasi hendaknya tidak dilakukan dengan cara menghentikan akses nelayan terhadap BBM subsidi yang menjadi kebutuhan dasar mereka,” kata Jaswadi.

Atas dasar itu, ia berharap Dinas Perikanan Kabupaten Rokan Hilir dapat mengambil langkah evaluasi secara dialogis, berkeadilan, dan mengedepankan kepentingan nelayan kecil.

Ia menegaskan, HNSI Rohil siap membuka ruang komunikasi dan dialog dengan seluruh pihak, termasuk pemerintah daerah dan sesama pengurus organisasi, guna mencari solusi terbaik yang menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan sekaligus melindungi kesejahteraan nelayan.

 

 

 

Laporan: Alek Marzen

Editor: Redaksi

Berita Terkait

Kegiatan Patroli Siskamling Oleh Personil Koramil 04/Kubu.
Sawah Kering, Amat Saman Minta Pemda Rohil Turun Tangan Cari Solusi
Jalin Silaturahmi, Personil Koramil 04/Kubu Gelar Komsos.
Polsek Kubu Ungkap Kasus Sabu, Seorang Pria Diamankan
200 Hektare Hutan Mangrove Palika Diduga Digarap Ilegal, Dalang dan Investor Disebut-sebut Sudah Diatur
Kelompok Nelayan Putra Bersatu Terbentuk di Teluk Piyai Pesisir, Dorong Solidaritas dan Akses Bantuan Pemerintah
Antisipasi Karhutla, Personil Koramil 04/Kubu Laksanakan Patroli.
Ketua Suku Hamba Raja Kecamatan Kubu Kabupaten Rohil Dukung Polri Tetap Dibawah Presiden.

Berita Terkait

Minggu, 1 Februari 2026 - 21:47 WIB

Sawah Kering, Amat Saman Minta Pemda Rohil Turun Tangan Cari Solusi

Minggu, 1 Februari 2026 - 13:13 WIB

Jalin Silaturahmi, Personil Koramil 04/Kubu Gelar Komsos.

Sabtu, 31 Januari 2026 - 23:39 WIB

Polsek Kubu Ungkap Kasus Sabu, Seorang Pria Diamankan

Sabtu, 31 Januari 2026 - 18:58 WIB

200 Hektare Hutan Mangrove Palika Diduga Digarap Ilegal, Dalang dan Investor Disebut-sebut Sudah Diatur

Sabtu, 31 Januari 2026 - 12:22 WIB

Kelompok Nelayan Putra Bersatu Terbentuk di Teluk Piyai Pesisir, Dorong Solidaritas dan Akses Bantuan Pemerintah

Sabtu, 31 Januari 2026 - 11:26 WIB

Antisipasi Karhutla, Personil Koramil 04/Kubu Laksanakan Patroli.

Jumat, 30 Januari 2026 - 17:16 WIB

Ketua Suku Hamba Raja Kecamatan Kubu Kabupaten Rohil Dukung Polri Tetap Dibawah Presiden.

Jumat, 30 Januari 2026 - 14:20 WIB

Kadis PUPR Rohil: Persetujuan Substansi RTRW Jadi Kunci Arah Pembangunan Daerah

Berita Terbaru

KEPULAUAN MERANTI

Jembatan Presisi Polri di SDN Semulut 70% Siap, Siswa Lebih Aman

Senin, 2 Feb 2026 - 22:54 WIB